KESEHATAN

Pemerintah Kabupaten Kebumen

Kepala Dinas Kesehatan

dr. Hj. YOHANITA RINI KRISTIANI, M.Kes
dr. Hj. YOHANITA RINI KRISTIANI, M.Kes

Categories

  • User Online: 0
  • Today Visit: 415
  • Today Visitor: 100
  • Yesterday Visit: 528
  • Week Visit: 11,974
  • Month Visit: 18,022
  • Years Visit: 185,074
  • Total Visit: 185,079
July 2016
M T W T F S S
« May    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

AYO JAGA KEBUGARAN

karyawan karyawatinya. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Jumat, 13 Mei 2016 di alun-alun Kebumen. Test kebugaran ini untuk mDSCN2286engetahui kebugaran tubuh, seberapa besar oksigen mampu dipacu terhadap paru-paru kita. Kegiatan ini juga diharapkan memotivasi karyawan karyawati untuk berolahraga secara teratur dalam rangka menuju hidup sehat dan menghindari penyakit-penyakit dalam tubuh.

Dinas Kesehatan Kabupaten Kebumen berencana melakukan tes kebugaran secara rutin terhadap pegawai negeri sipil (PNS). Alasannya, masih banyak PNS yang tingkat kebugarannya kurang. Hal ini dilakukan juga sebagai monitoring untuk mengetahui tingkat kesehatan dan kebugaran PNS secara berkala. Tujuannya untuk melakukan evaluasi pencapaian tingkat kebugaran yang selanjutnya akan dilakukan perbandingan.

Beberapa hal untuk menjaga kebugaran tubuh :

  • Selalu ber “ positif thinking “, di dalam tubuh yang sehat terdapat pikiran yang tenang dan sehat juga.
  • Istirahat cukup dan tidur yang cukup dan berkualitas.
  • Olah raga secara teratur
  • Makan makanan cukup serat dan higienes serta tidak berlebihan
  • Penuhi kebutuhan vitamin D dan cairan yang diperlukan tubuh.
  • Dan jangan lupa “ TERSENYUM “ , tersenyum merupakan tips menjaga kesehatan tubuh paling Senyum dapat meningkatkan kekebalan tubuh anda.

ARUM DWILESTARININGSIH,S.Kep.,MMDSCN2279

SIKAT GIGI MASSAL 2500 SISWA SEKOLAH DASAR DI KABUPATEN KEBUMEN

Dalam rangka Hari Pendidikan Nasional Tahun 2016 di Kabupaten Kebumen dilaksanakan kegiatan sikat gigi massal 2500 siswa SD di Kabupaten Kebumen. Merupakan salah satu kegiatan promosi kesehatan yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Kebumen.

Promosi Kesehatan merupakan upaya untuk meningkatkan kemampuan masyarakat melalui proses pembelajaran bersama masyarakat, khususnya masyarakat pendidikan di sekolah. Promosi kesehatan ini dilakukan agar mereka dapat menolong dirinya sendiri, serta mengembangkan kegiatan yang bersumber pada masyarakat, sesuai dengan kondisi sosial budaya setempat dan didukung oleh kebijakan secara internal maupun lingkungannya yang berwawasan kesehatan. Dalam konteks menolong diri sendiri dimaksudkan bahwa masyarakat sekolah mampu berperilaku mencegah timbulnya masalah-masalah kesehatan, memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan serta mampu pula mengatasi apabila masalah kesehatan tersebut terlanjur terjadi di lingkungan mereka.

Ada beberapa indikator yang dipakai sebagai ukuran untuk menilai PHBS di sekolah yaitu : Mencuci tangan dengan air yang mengalir dan menggunakan sabun, mengkonsumsi jajanan sehat di kantin sekolah, menggunakan jamban yang bersih dan sehat, olahraga yang teratur dan terukur,  memberantas jentik nyamuk, tidak merokok di sekolah, menimbang berat badan dan mengukur tinggi badan setiap 6 bulan, membuang sampah pada tempatnya.

Mencuci tangan dengan sabun adalah salah satu tindakan kebersihan dengan membersihkan tangan dan jari jemari menggunakan air dan sabun oleh manusia untuk menjadi bersih dan memutuskan mata rantai mikroorganisme sebagai sumber penyakit. Mencuci tangan dengan sabun dikenal juga sebagai salah satu upaya pencegahan penyakit, hal ini dilakukan karena tangan seringkali menjadi pembawa mikroorganisme dan menyebabkan mikroorganisme berpindah dari satu orang ke orang lain, baik dengan kontak langsung ataupun kontak tidak langsung (menggunakan permukaan-permukaan lain seperti handuk, gelas, dan lain sebagainya).sikat gigi

Selain mencuci tangan, menggosok gigi adalah tindakan yang perlu diajarkan kepada anak-anak sehingga dapat menjadi suatu kebiasaan yang baik dan sehat. Menggosok gigi merupakan cara yang paling mudah dan efektif untuk menjaga kebersihan gigi dan gusi dari plak dan sisa makanan. Menyikat gigi harus dilakukan dengan baik dan benar agar debris atau sisa makanan benar-benar dapat dihilangkan dari permukaan gigi.

(Arum Dwilestariningsih, S.Kep,MM)

 

Carcinoma Nasofaring

Oleh : dr Uskar Yulinanto

Karsinoma nasofaring adalah penyakit yang insidennya cukup tinggi, terutama pada ras Cina dimana didapatkan 30 orang penderita dalam 100.000 penduduk. Diantara berbagai jenis kanker kepala leher, karsinoma nasofaring merupakan salah satu jenis yang memiliki prognosis buruk dikarenakan posisi tumor yang berdekatan dengan dasar tengkorak dan berbagai struktur penting lain. Ciri dari karsinoma nasofaring adalah pertumbuhan tumor yang invasif, kesulitan mendeteksi tumor, sehingga menghambat diagnosis dini. Namun demikian karsinoma nasofaring juga suatu jenis tumor yang radiosensitif dan kemosensitif.

Faktor etiologi karsinoma nasofaring adalah faktor genetik dimana ras mongoloid merupakan yang paling banyak terkena. Faktor infeksi virus Ebstein-Barr ditengarai juga mempunyai hubungan erat dengan patogenesis karsinoma nasofaring. Faktor lain yang diduga banyak berpengaruh adalah paparan bahan karsinogenik.
Sepertiga pasien datang pada stadium dini yang biasanya diberikan terapi dengan radioterapi. Dua pertiga pasien datang pada stadium lanjut (locally advanced disease) dimana bila hanya diterapi dengan pembedahan dan atau radioterapi memiliki rekurensi mencapai 65%.

Dahulu kemoterapi diberikan hanya sesudah kegagalan terapi radiasi dan atau pembedahan dalam mengatasi tumor kepala leher. Berbagai penelitian telah dilakukan mengenai bermacam variasi kombinasi obat-obatan yang digunakan, tidak hanya pada kekambuhan dan stadium lanjut, tetapi juga sebagai terapi awal untuk tumor-tumor kepala leher. Kemoterapi telah muncul sebagai terapi tambahan setelah pembedahan dan atau terapi radiasi.

Pada dekade terakhir ini terapi kombinasi/kemoradioterapi terhadap karsinoma nasofaring menunjukkan hasil yang memuaskan ditinjau dari angka rekurensi tumor ( bisa dilihat pada lampiran 1 ). Pengertian kita mengenai mengenai cara kerja dan syarat-syarat  terapi radiasi dan kemoterapi dan pengaruhnya terhadap tumor perlu lebih dipahami sehingga harapan terapi yang kita inginkan dapat tercapai. 2 Keberhasilan terapi sangat ditentukan oleh kejelian diagnosis, stadium penderita dan pemilihan jenis terapi yang tepat.

Dalam tinjauan pustaka ini akan diulas mengenai sisi-sisi penting yang perlu kita kuasai agar kita dapat memahami setiap langkah pemberian terapi kita pada pasien karsinoma nasofaring berdasarkan prinsip-prinsip radioterapi dan kemoterapi, serta efeknya terhadap tubuh dan sel kanker, sehingga pada akhirnya outcomenya adalah tingkat rekurensi yang rendah, Survival rate yang meningkat tanpa mengesampingkan  kualitas hidup pasien.

2.1 Anatomi dan Lokasi

Nasofaring merupakan ruang atau rongga yang berbentuk kubus yang terletak di belakang hidung. Rongga ini begitu sulit dilihat, sehingga pada waktu dahulu disebut ”rongga buntu atau rongga tersembunyi”. Batas-batas rongga nasofaring, di sebelah depan yang berbatasan dengan hidung disebut koana. Sebelah atas yang merupakan atap adalah basis kranii atau dasar tengkorak, di sebelah belakang adalah jaringan atau mukosa di depan vertebra servikal. Sebelah bawah adalah ismus faring dan palatum mole, batas lainnya adalah dua sisi lateral.

Bangunan-bangunan penting yang terdapat di nasofaring adalah:

  1. Adenoid atau tonsila Lushka. Bangunan ini hanya terdapat pada anak-anak umur kurang dari 13 tahun, sebab bila dewasa bangunan ini mengalami regresi.
  2. Fosa nasofaring atau juga disebut forniks nasofaring. Tempat ini merupakan lekuk kecil yang merupakan tempat predileksi fibroma nasofaring atau angiofibroma nasofaring.
  3. Torus tubarius yaitu tonjolan tempat muara dari saluran tuba Eustachii yang disebut ostium tuba.
  4. Fossa Rosenmulleri, suatu lekuk kecil yang terletak di sebelah belakang torus tubarius. Lekuk ini diteruskan ke bawah belakang sebagai alur kecil yang disebut sulkus salfingofaring.

Fosa Rosenmulleri merupakan tempat perubahan atau pergantian epitel, dari epitel kolumner atau kuboid menjadi epitel gepeng. Tempat pergantian ini dianggap merupakan predileksi terjadinya keganasan di nasofaring.

UICC tahun 1963 membagi nasofaring menjadi 3 daerah penting

  1. Dinding anterior terbentang dari koana atau nares posterior sampai dasar yang dibentuk oleh permukaan posterior palatum mole.
  2. Dinding posterior termasuk atap, merupakan lanjutan yang melengkung dengan atap berasal dari batas superior koana, ke sebelah bawah berakhir pada batas bebas palatum mole.
  3. Dinding lateral nasofaring berhubungan dengan kavum timpani kiri dan kanan tuba Eustachii, yang dikelilingi oleh torus tubarius yang menonjol sehingga terbentuk fosa Rosenmulleri. Di sebelah bawahnya terdapat lipatan salpingofaring.

 

2.2 Diagnosis dan Pedoman Curiga Karsinoma Nasofaring

Gejala-gejala kanker nasofaring dapat dibagi menjadi beberapa kelompok:

  1. Gejala hidung
  2. Gejala telinga
  3. Gejala tumor leher
  4. Gejala mata
  5. Gejala kranii

Sebagai pedoman atau patokan untuk lebih cepat mencurigai kemungkinan adanya kanker nasofaring, dapat diajukan sebagai berikut:

  1. Pilek-pilek lama tidak sembuh-sembuh, tidak keluar ingus, sedang hidung, sinus paranasal tidak tampak kelainan. Penderita sendiri merasa tidak enak. Penderita sering senggruk-senggruk.
  2. Penderita pilek-pilek keluar nanah atau ingus kental, berbau busuk, sedang hidung dan sinus tak tampak kelainan.
  3. Penderita pilek-pilek keluar nanah dengan titik-titik atau aris-garis darah
  4. Penderita pilek-pilek lama tidak sembuh-sembuh, pada pemeriksaan hidung tidak tampak kelainan, penderita mengeluh kurang pendengaran atau tinitus.
  5. Penderita sering mimisen atau keluar darah dari hidung, terutama usia > 40 tahun, sedang hidung dan tekanan darah tidak menunjukkan kelainan
  6. Penderita pilek-pilek lama dan mata melihat bayangan dobel atau diplopia.
  7. Penderita mengeluh kurang pendengaran, rasa penuh atau sakit telinga dan ada diplopia
  8. Penderita mengeluh pilek-pilek lama dan merasa pusing atau sakit kepala, sedang hidung tidak tampak kelainan
  9. Penderita mengeluh sakit kepala dan diplopia
  10. Penderita pilek-pilek lama, sakit kepala dan kurang pendengaran atau tinitus, sedang pemeriksaan hidung tidak tampak kelainan
  11. Setiap tumor leher yang terletak di bawah prosesus mastoid, di sebelah dalam M. Sternokleidomastoid.
  12. Ada tumor leher terletak di atas pertengahan leher, di belakang angulus mandibula, sedang tidak ada keluhan tenggorok dan suara tidak serak.
  13. Penderita pilek-pilek lama dan terdapat tumor leher yang terletak di atas pertengahan leher
  14. Penderita sering mimisen dan tampak tumor leher yang terletak di atas pertengahan leher
  15. Penderita mengeluh kurang pendengaran atau tinitus dan tampak tumor leher di atas pertengahan
  16. Penderita mengeluh sakit kepala dan tampak tumor leher di atas pertengahan leher
  17. Penderita mengeluh diplopia atau tidak melihat dan tampak tumor leher di atas pertengahan leher
  18. Penderita keluar ingus berbau dan bercampur benang-benang darah, sedang ada tumor leher di atas pertengahan leher
  19. Tampak tumor di atas pertengahan leher dan tampak adanya parese nervus kranial
  20. Penderita mengeluh diplopia dan sering mimisen, walaupun tidak banyak
  21. Kanker nasofaring sudah dapat dikatakan pasti bila gejala lengkap.

Muljono Djojopranoto membuat patokan yang lebih singkat, agar kita selalu ingat dan curiga akan adanya kanker nasofaring, seperti di bawah ini:

  1. Setiap ada tumor di leher, ingatlah selalu adanya kanker nasofaring. Lebih-lebih jika tumor itu terletak di bawah prosesus mastoid dan di belakang angulus mandibula.
  2. Dugaan kanker nasofaring akan lebih kuat bila ada tumor leher:
  1. Ditambah gejala hidung dan telinga
  2. Ditambah gejala mata dan gejala syaraf atau gejala kranial
  1. Dugaan kanker nasofaring itu hampir pasti bila ada gejala lengkap.

2.3 Diagnosis Karsinoma Nasofaring

Diagnosis dan pengobatan dini memegang peranan penting dalam keberhasilan terapi karsinoma nasofaring. Perlu perhatian pada orang resiko tinggi yaitu usia diatas 40 th yang kita curigai menderita karsinoma nasofaring memerlukan anamnesis yang lengkap dan pemeriksaan THT yang seksama yang sebaiknya diserta pemeriksaan endoskopi, Patologi Anatomi dan CT-scan nasofaring.

Gejala dini karsinoma nasofaring adalah gejala yang ditimbulkan oleh tumor primer yang masih terbatas di nasofaring, biasanya besarnya tumor masih tergolong T1 dan gejala yang muncul adalah gejala telinga dan gejala hidung.  Gejala lanjut timbul karena tumor yang semakin meluas, yang biasanya disertai penyebaran melalui saluran getah bening dan terjadi metastasis jauh.

Paling penting ialah terutama dokter puskesmas harus mampu memberikan informasi tentang gejala-gejala dini kanker nasofaring, sehingga tidak datang ke dokter pada stadium yang sudah lanjut. Semua dokter menyadari, memang tidak mudah melihat nasofaring dengan sempurna, apalagi melihat kanker yang sering tidak menampakkan diri. Tetapi bila ada kecurigaan terhadap kanker nasofaring dengan gejala minimal, sudah merupakan bantuan yang besar dalam usaha mendiagnosis keganasan tersebut.

Diagnosis kanker nasofaring ditentukan oleh gejala yang dapat dikumpulkan, ditambah hasil pemeriksaan klinik. Diagnosis pasti kanker nasofaring ditentukan oleh diagnosis klinis dan ditunjang dengan diagnosis histologik atau sitologik. Diagnosis histologik atau sitologik dapat ditegakkan bila dikirim suatu material hasil biopsi, hisapan, atau sikatan (brush).

 

2.3.1 Diagnosis Banding Karsinoma Nasofaring

Karena nasofaring merupakan bagian faring yang sulit dilihat, untungnya banyak manifestasi tak langsung dari karsinoma nasofaringyang bisa digunakan untuk mencurigai adanya lesi pada nasofaring. Bila terjadi obstruksi koana, huruf m akan terdengar seperti huruf b dan n seperti huruf d. Bila pasien mengeluh sengau dan hasil pemeriksaan hidung anterior normal curigailah sebagi kelainan nasofaring. Sehingga beberapa lesi di nasofaring dengan gejala yang hampir mirip bisa dianggap sebagai diagnosis banding,  misalnya :

  1. Angiofibroma nasofaring
  2. Hipertrofi adenoid/ adenoid persisten
  3. Polip nasi /polip antrokoanal
  4. Tumor dekat dasar tengkorak

 

2.3.2 Penentuan Stadium Karsinoma Nasofaring

Menurut UICC edisi ke V th 1997 dengan klasifikasi TNM Stadium Karsinoma nasofaring ditentukan sbb:

  • T menggambarkan keadaan tumor primer, besar dan perluasannya.
    • T1 : Tumor terbatas pada nasofaring
    • T2 : Tumor meluas ke orofaring dan atau fosa nasal

T2a  : Tanpa perluasan ke parafaring

T2b : Dengan perluasan ke parafaring

  • T3             : Invasi ke struktur tulang dan atau sinus paranasal
  • T4             : Tumor meluas ke intrakranial dan atau mengenai saraf  otak, fosa infratemporal hipofaring atau orbita
  • N menggambarkan kelenjar limfe regional
    • N0 : Tidak ada pembesaran kelenjar
    • N1 : Terdapat pembesaran kelenjar ipsilateral < 6 cm
    • N2 : Terdapat pembesaran kelenjar bilateral < 6 cm
    • N3 : Terdapat pembesaran kelenjar > 6 cm atau ekstensi ke

supraklavikular.

  • M menggambarkan metastasis jauh
    • M0 : Tak ada metastasis jauh
    • M1 : Terdapat Metastasis jauh

Berdasarkan TNM tersebut diatas, stadium penyakit dapat ditentukan sbb:

– Stadium I        : T1, N0, M0

– Stadium IIA   : T2a, N0, M0

– Stadium IIB    : T1, N1, M0 atau T2a, N1, M0 atau T2b, N0-1, M0

– Stadium III     : T1-2, N2, M0 atau T3, NO-2, M0

– Stadium IVA  : T4, N0-2, M0

– Stadium IVB  : Tiap T, N3, M0

– Stadium IV C : Tiap T, Tiap N, M1

2.3.3 Histopatologi Karsinoma Nasofaring

Dengan melihat struktur histologis, maka karsinoma nasofaring dibagi menjadi beberapa jenis sesuai dengan pembagian WHO, yaitu :

WHO 1     : karsinoma sel sel skuamosa, berkeratin di dalam maupun di luar   sel. Sel-sel kanker  berdiferensiasi baik sampai sedang.

WHO 2     : termasuk adalah karsinoma non keratin

sel- sel kanker  berdiferensiasi baik sampai sedang.

WHO 3      : karsinoma berdeferensiasi jelek, dengan gambaran sel kanker    paling heterogen. Karsinoma anaplastik, clear cell carsinoma dan     variasi sel  spindel.

Secara umum KNF WHO-3 memiliki prognosis paling baik dimana angka harapan hidup 5 tahun adalah 60-80%. Sebaliknya KNF WHO-1 memiliki prognosis paling buruk yaitu angka harapan hidup 5 tahun sebesar 20-40%.

2.4 Prinsip Pengobatan

Prinsipnya pengobatan untuk karsinoma nasofaring meliputi terapi sbb :

  1. Radioterapi
  2. Kemoterapi
  3. Kombinasi
  4. Operasi
  5. Imunoterapi
  6. Terapi paliatif

Pemilihan Terapi Kanker

Memilih obat kanker tidaklah mudah, banyak faktor yang perlu diperhatikan misalnya :

  • Jenis kanker
  • Kemosensitivitas dan radiosensitivitas kanker
  • Imunitas Tubuh dan kemampuan pasien untuk menerima terapi yang kita berikan.
  • Efek samping terapi yang kita berikan

Jenis Kanker

Untuk keperluan pemberian kemoterapi , kanker dibagi menjadi 2 jenis yaitu :

  1. Kanker Hemopoitik dan limfopoitik.

Kanker hemopoitik dan limfopoitik umumnya merupakan kanker sistemik. Termasuk dalam jenis kanker ini adalah kanker darah (leukemia), limfoma maligna dan sumsum tulang (myeloma). Terapi utama kenker hematologi adalah kemoterapi, sedangkan operasi dan radioterapi sebagai adjuvan.

  1. Kanker padat (solid).

Kanker padat bisa  lokal, bisa menyebar ke regional dan atau sistemik ke organ-organ lain. Dalam kanker jenis ini termasuk kanker diluar hematologi. Terapi utama kanker ini adalah operasi dan atau radioterapi, sedangkan kemoterapi baru diberikan pada stadium lanjut sebagai adjuvan.

2.4.1 Terapi Radiasi Pada Karsinoma Nasofaring

Definisi Terapi Radiasi

Terapi radiasi adalah terapi sinar menggunakan energi tinggi yang dapat menembus jaringan dalam rangka membunuh sel neoplasma.11

Persyaratan Terapi Radiasi

Penyembuhan total terhadap karsinoma nasofaring apabila hanya menggunakan terapi radiasi harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :8, 11

  • Belum didapatkannya sel tumor di luar area radiasi
  • Tipe tumor yang radiosensitif
  • Besar tumor yang kira-kira radiasi mampu mengatasinya
  • Dosis yang optimal.
  • Jangka waktu radiasi tepat
  • Sebisa-bisanya menyelamatkan sel dan jaringan yang normal dari efek samping radiasi.

Dosis radiasi pada limfonodi leher tergantung pada ukurannya sebelum kemoterapi diberikan. Pada limfonodi yang tak teraba diberikan radiasi sebesar 5000 cGy, < 2 cm diberikan 6600 cGy, antara 2-4 cm diberikan 7000 cGy dan bila lebih dari 4 cm diberikan dosis 7380 cGy, diberikan dalam 41 fraksi selama 5,5 minggu.

Sifat Terapi Radiasi

Terapi radiasi sendiri sifatnya adalah :

  • Merupakan terapi yang sifatnya lokal dan regional
  • Mematikan sel dengan cara merusak DNA yang akibatnya bisa mendestrukasi sel tumor
  • Memiliki kemampuan untuk mempercepat proses apoptosis dari sel tumor.
  • Ionisasi yang ditimbulkan oleh radiasi dapat mematikan sel tumor.
  • Memiliki kemampuan mengurangi rasa sakit dengan mengecilkan ukuran tumor sehingga mengurangi pendesakan di area sekitarnya..
  • Berguna sebagai terapi paliatif untuk pasien dengan perdarahan dari tumornya.
  • Walaupun pemberian radiasi bersifat lokal dan regional namun dapat mengakibatkan defek imun secara general.

Efek Samping Terapi Radiasi :

  1. Radiomukositis, stomatitis, hilangnya indra pengecapan, rasa nyeri dan ngilu pada gigi.
  2. Xerostomia, trismus, otitis media
  3. Pendengaran menurun
  4. Pigmentasi kulit seperti fibrosis subkutan atau osteoradionekrosis.
  5. Pada terapi kombinasi dengan sitostatika dapat timbul depresi sumsum tulang dan gangguan gastrointestinal.
  6. Lhermitte syndrome karena radiasi myelitis.
  7. Hypothyroidism

Pengaruh Terapi Radiasi Terhadap Sistem Imun

Secara luas dilaporkan bahwa segera setelah pemberian radiasi terjadi gangguan terhadap sel limfosit T, yang akibatnya memudahkan timbulnya berbagai macam infeksi. Pasien dengan tumor primer di leher dimana drainase limfatiknya juga di leher , setelah diberikan radiasi mengakibatkan berkurangnya limfosit darah tepi secara signifikan. Jumlah limfosit T CD4+ menurun lebih bermakna dibandingkan penurunan jumlah sel limfosit T CD8+. Gangguan akibat radiasi tidak hanya mempengaruhi jumlah sel limfosit T namun juga mengakibatkan defek pada fungsi sel T. Adanya gangguan fungsi dibuktikan dengan sulitnya sel T ini distimulasi pada percobaan invitro. Apakah defek jumlah dan  fungsi limfosit T pada penderita yang diterapi radiasi dapat reversibel? Penelitian menunjukkan bahwa ada kecenderungan normalisasi sel limfosit T CD4+ setelah 3-4 minggu pasca radiasi.

Jenis Pemberian Terapi Radiasi

Terapi radiasi pada karsinoma nasofaring bisa diberikan sebagai :

–     Radiasi eksterna dengan berbagai macam teknik fraksinasi.

  • Radiasi interna ( brachytherapy ) yang bisa berupa permanen implan atau intracavitary barchytherapy.

Radiasi eksterna  dapat digunakan sebagai :

  • pengobatan efektif pada tumor primer tanpa pembesaran kelenjar getah bening
  • pembesaran tumor primer dengan pembesaran kelenjar getah bening
  • Terapi yang dikombinasi dengan kemoterapi
  • Terapi adjuvan diberikan pre operatif atau post operatif pada neck dissection

Radiasi Interna/ brachyterapi bisa digunakan untuk :

  • Menambah kekurangan dosis pada tumor primer dan untuk menghindari terlalu banyak jaringan sehat yang terkena radiasi.
  • Sebagai booster bila masih ditemukan residu tumor
  • Pengobatan kasus kambuh.

2.4.2 Kemoterapi Pada Karsinoma Nasofaring

Definisi Kemoterapi

Kemoterapi adalah segolongan obat-obatan yang dapat menghambat pertumbuhan kanker atau bahkan membunuh sel kanker. Obat-obat anti kaker ini dapat digunakan sebagai terapi tunggal (active single agents), tetapi kebanyakan berupa kombinasi karena dapat lebih meningkatkan potensi sitotoksik terhadap sel kanker. Selain itu sel-sel yang resisten terhadap salah satu obat mungkin sensitif terhadap obat lainnya. Dosis obat sitostatika dapat dikurangi sehingga efek samping menurun.

Tujuan Kemoterapi

Tujuan kemoterapi adalah untuk menyembuhkan pasien dari penyakit tumor ganasnya. Kemoterapi bisa digunakan untuk mengatasi tumor secara lokal dan juga untuk mengatasi sel tumor apabila ada metastasis jauh. Secara lokal dimana vaskularisasi jaringan tumor yang masih baik, akan lebih sensitif menerima kemoterapi sebagai antineoplastik agen. Dan karsinoma sel skuamosa biasanya sangat sensitif terhadap kemoterapi ini.

Obat-Obat Sitostatika yang direkomendasi FDA untuk Kanker Kepala Leher

Beberapa sitostatika yang mendapat rekomendasi dari FDA (Amerika) untuk digunakan sebagai terapi keganasan didaerah kepala dan leher yaitu Cisplatin, Carboplatin, Methotrexate, 5-fluorouracil, Bleomycin, Hydroxyurea, Doxorubicin, Cyclophosphamide, Doxetaxel, Mitomycin-C, Vincristine dan Paclitaxel. Akhir-akhir ini dilaporkan penggunaan Gemcitabine untuk keganasan didaerah kepala dan leher.

Sensitivitas Kemoterapi terhadap Karsinoma Nasofaring

Kemoterapi memang lebih sensitif untuk karsinoma nasofaring WHO I dan sebagian WHO II yang dianggap radioresisten. Secara umum karsinoma nasofaring WHO-3 memiliki prognosis paling baik sebaliknya karsinoma nasofaring WHO-1 yang memiliki prognosis paling buruk.

Adanya perbedaan kecepatan pertumbuhan (growth) dan pembelahan (division) antara sel kanker dan sel normal yang disebut siklus sel (cell cycle) merupakan titik tolak dari cara kerja sitostatika. Hampir semua sitostatika mempengaruhi proses yang berhubungan dengan sel aktif seperti mitosis dan duplikasi DNA. Sel yang sedang dalam keadaan membelah pada umumnya lebih sensitif daripada sel dalam keadaan istirahat.

Berdasar siklus sel kemoterapi ada yang bekerja pada semua siklus ( Cell Cycle non Spesific ) artinya bisa pada sel yang dalam siklus pertumbuhan sel bahkan dalam keadaan istirahat. Ada juga kemoterapi yang hanya bisa bekerja pada siklus pertumbuhan tertentu ( Cell Cycle phase spesific ).

Obat yang dapat menghambat replikasi sel pada fase tertentu pada siklus sel disebut cell cycle specific. Sedangkan obat yang dapat menghambat pembelahan sel pada semua fase termasuk fase G0 disebut cell cycle nonspecific. Obat-obat yang tergolong cell cycle specific antara lain Metotrexate dan 5-FU, obat-obat ini merupakan anti metabolit yang bekerja dengan cara menghambat sintesa DNA pada fase S. Obat antikanker yang tergolong cell cycle nonspecific antara lain Cisplatin (obat ini memiliki mekanisme cross-linking terhadap DNA sehingga mencegah replikasi, bekerja pada fase G1 dan G2), Doxorubicin (fase S1, G2, M), Bleomycin (fase G2, M), Vincristine (fase S, M).11

Dapat dimengerti bahwa zat dengan aksi multipel bisa mencegah timbulnya klonus tumor yang resisten, karena obat-obat ini cara kerjanya tidak sama. Apabila  resiten terhadap agen tertentu kemungkinan sensitif terhadap agen lain yang diberikan, dikarenakan sasaran kerja pada siklus sel berbeda.

Mekanisme Cara Kerja Kemoterapi

Kebanyakan obat anti neoplasma yang secara klinis bermanfaat, agaknya bekerja dengan menghambat sintesis enzim maupun bahan esensial untuk sintesis dan atau fungsi asam nukleat. Berdasarkan mekanisme cara kerja obat , zat yang berguna pada tumor kepala leher dibagi sebagai berikut :

  1. Antimetabolit, Obat ini menghambat biosintesis purin atau pirimidin. Sebagai contoh MTX, menghambat pembentukan folat tereduksi, yang dibutuhkan untuk sintesis timidin.
  2. Obat yang mengganggu struktur atau fungsi molekul DNA. Zat pengalkil seperti CTX ( Cyclophosphamide) mengubah struktur DNA, dengan demikian menahan replikasi sel. Di lain pihak, antibiotika seperti dactinomycin dan doxorubicin mengikat dan menyelip diantara rangkaian nukleotid molekul DNA dan dengan demikian menghambat produksi mRNA.
  3. Inhibitor mitosis seperti alkaloid vinka contohnya vincristine dan vinblastine, menahan pembelahan sel dengan mengganggu filamen mikro pada kumparan mitosis.

Cara Pemberian Kemoterapi

Secara umum kemoterapi bisa digunakan dengan 4 cara kerja yaitu :

  1. Sebagai neoadjuvan yaitu pemberian kemoterapi mendahului pembedahan dan radiasi.
  2. Sebagai terapi kombinasi yaitu kemoterapi diberikan bersamaan dengan radiasi pada kasus karsinoma stadium lanjut.
  3. Sebagai terapi adjuvan yaitu sebagai terapi tambahan paska pembedahan dan atau radiasi
  4. Sebagai terapi utama yaitu digunakan tanpa radiasi dan pembedahan terutama pada kasus kasus stadium lanjut dan pada kasus kanker jenis hematologi (leukemia dan limfoma).

Menurut prioritas indikasinya terapi   terapi kanker dapat dibagi menjadi dua yaitu terapi utama dan terapi adjuvan (tambahan/ komplementer/ profilaksis). Terapi utama dapat diberikan secara mandiri, namun terapi adjuvan tidak dapat mandiri, artinya terapi adjuvan tersebut harus meyertai terapi utamanya. Tujuannya adalah membantu terapi utama agar hasilnya lebih sempurna.

Terapi adjuvan tidak dapat diberikan begitu saja tetapi memiliki indikasi yaitu bila setelah mendapat terapi utamanya yang maksimal ternyata :

  • kankernya masih ada, dimana biopsi masih positif
  • kemungkinan besar kankernya masih ada, meskipun tidak ada bukti secara makroskopis.
  • pada tumor dengan derajat keganasan tinggi ( oleh karena tingginya resiko kekambuhan dan metastasis jauh).

Berdasarkan saat pemberiannya kemoterapi adjuvan pada tumor ganas kepala leher dibagi menjadi :

  1. neoadjuvant atau induction chemotherapy
  2. concurrent, simultaneous atau concomitant chemoradiotherapy
  3. post definitive chemotherapy.

Efek Samping Kemoterapi

Agen kemoterapi tidak hanya menyerang sel tumor tapi juga sel normal yang membelah secara cepat seperti sel rambut, sumsum tulang dan Sel pada traktus gastro intestinal. Akibat yang timbul bisa berupa perdarahan, depresi sum-sum tulang yang memudahkan terjadinya infeksi. Pada traktus gastro intestinal bisa terjadi mual, muntah anoreksia dan ulserasi saluran cerna. Sedangkan pada sel rambut mengakibatkan kerontokan  rambut.3 Jaringan tubuh normal yang cepat proliferasi misalnya sum-sum tulang, folikel rambut, mukosa saluran pencernaan mudah terkena efek obat sitostatika. Untungnya sel kanker menjalani siklus lebih lama dari sel normal, sehingga dapat lebih lama dipengaruhi oleh sitostatika dan sel normal lebih cepat pulih dari pada sel kanker.

Efek samping yang muncul pada jangka panjang adalah toksisitas terhadap jantung, yang dapat dievaluasi dengan EKG dan toksisitas pada paru berupa kronik fibrosis pada paru. Toksisitas pada hepar dan  ginjal lebih sering terjadi dan sebaiknya dievalusi fungsi faal hepar dan faal ginjalnya. Kelainan neurologi juga merupakan salah satu efek samping pemberian kemoterapi.

Untuk menghindari efek samping intolerable, dimana penderita menjadi tambah sakit sebaiknya dosis obat dihitung secara cermat berdasarkan luas permukaan tubuh (m2) atau kadang-kadang menggunakan ukuran berat badan (kg). Selain itu faktor yang perlu diperhatikan adalah keadaan biologik penderita. Untuk menentukan keadaan biologik yang perlu diperhatikan adalah keadaan umum (kurus sekali, tampak kesakitan, lemah sadar baik, koma, asites, sesak, dll), status penampilan (skala karnofsky, skala ECOG), status gizi, status hematologis, faal ginjal, faal hati, kondisi jantung, paru dan lain sebagainya.

Penderita yang tergolong good risk dapat diberikan dosis yang relatif tinggi, pada poor risk (apabila didapatkan gangguan berat pada faal organ penting) maka dosis obat harus dikurangi, atau diberikan obat lain yang efek samping terhadap organ tersebut lebih minimal.8 Efek Samping secara spesifik untuk masing-masing obat dapat dilihat pada lampiran 2.

Efek samping kemoterapi dipengaruhi oleh :

  1. Masing-masing agen memiliki toksisitas yang spesifik terhadap organ tubuh tertentu. (lampiran 2)
  2. Dosis.
  3. Jadwal pemberian.
  4. Cara pemberian (iv, im, peroral, per drip infus).
  5. Faktor individual pasien yang memiliki kecenderungan efek toksisitas pada organ tertentu.

Persyaratan Pasien yang Layak diberi Kemoterapi

Pasien dengan keganasan memiki kondisi dan kelemahan kelemahan, yang apabila diberikan kemoterapi dapat terjadi untolerable side effect. Sebelum memberikan kemoterapi perlu pertimbangan sbb :

  1. Menggunakan kriteria Eastern Cooperative Oncology Group (ECOG) yaitu status penampilan <= 2
  2. Jumlah lekosit >=3000/ml
  3. Jumlah trombosit>=120.0000/ul
  4. Cadangan sumsum tulang masih adekuat misal Hb > 10
  5. Creatinin Clearence diatas 60 ml/menit  (dalam 24 jam) ( Tes Faal Ginjal )
  6. Bilirubin <2 mg/dl. , SGOT dan SGPT dalam batas normal ( Tes Faal Hepar ).
  7. Elektrolit dalam batas normal.
  8. Mengingat toksisitas obat-obat sitostatika sebaiknya tidak diberikan pada usia diatas 70 tahun.

 

Status Penampilan Penderita Ca ( Performance Status )

Status penampilan ini mengambil indikator kemampuan pasien, dimana penyait kanker semakin berat pasti akan mempengaruhi penampilan pasien. Hal ini juga menjadi faktor prognostik dan faktor yang menentukan pilihan terapi yang tepat pada pasien dengan sesuai status penampilannya.

Skala status penampilan menurut ECOG ( Eastern Cooperative Oncology Group) adalah sbb :

–     Grade 0 : masih sepenuhnya aktif, tanpa hambatan untuk tugas kerja dan pekerjaan sehari-hari.

–     Grade 1 : hambatan pada perkerjaan berat, namun masih mampu bekerja kantor ataupun pekerjaan rumah yang ringan.

–     Grade 2 : hambatan melakukan banyak pekerjaan, 50 % waktunya untuk tiduran dan hanya bisa mengurus perawatan dirinya sendiri,                           tidak dapat melakukan pekerjaan lain.

–     Grade 3 : Hanya mampu melakukan perawatan diri tertentu, lebih dari 50% waktunya untuk tiduran.

–    Grade 4 : Sepenuhnya tidak bisa melakukan aktifitas apapun, betul-betul hanya di kursi atau tiduran terus.

 

2.4.3 Kemoradioterapi Pada Karsinoma Nasofaring

Definisi Kemoradioterapi

Kemoradioterapi kombinasi adalah pemberian kemoterapi bersamaan dengan radioterapi dalam rangka mengontrol tumor secara lokoregional dan meningkatkan survival pasien dengan cara mengatasi sel kanker secara sistemik lewat mikrosirkulasi. Begitu banyak variasi agen yang digunakan dalam kemoradioterapi ini sehingga sampai saat ini belum didapatkan standar kemoradioterapi yang definitif.11

Manfaat Kemoradioterapi

Manfaat Kemoradioterapi adalah  :

  1. Mengecilkan massa tumor, karena dengan mengecilkan tumor akan memberikan hasil terapi radiasi lebih efektif. Telah diketahui bahwa pusat tumor terisi sel hipoksik dan radioterapi konvensional tidak efektif jika tidak terdapat oksigen. Pengurangan massa tumor akan menyebabkan pula berkurangnya jumlah sel hipoksia.
  2. Mengontrol metastasis jauh dan mengontrol mikrometastase.
  3. Modifikasi melekul DNA oleh kemoterapi menyebabkan sel lebih sensitif terhadap radiasi yang diberikan (radiosensitiser).

Terapi kombinasi ini selain bisa mengontrol sel tumor yang radioresisten,  memiliki manfaat juga untuk menghambat pertumbuhan kembali sel tumor yang sudah sempat terpapar radiasi.

Kemoterapi neoajuvan dimaksudkan untuk mengurangi besarnya tumor sebelum radioterapi. Pemberian kemoterapi neoadjuvan didasari atas pertimbangan vascular bed tumor masih intak sehingga pencapaian obat menuju massa tumor masih baik. Disamping itu, kemoterapi yang diberikan sejak dini dapat memberantas mikrometastasis sistemik seawal mungkin. Kemoterapi neoadjuvan pada keganasan kepala leher stadium II – IV dilaporkan overall response rate sebesar 80 %- 90 % dan CR ( Complete Response ) sekitar 50%. Kemoterapi neoadjuvan yang diberikan sebelum terapi definitif berupa radiasi dapat mempertahankan fungsi organ pada tempat tumbuhnya tumor (organ preservation).

Secara sinergi agen kemoterapi seperti Cisplatin mampu menghalangi perbaikan kerusakan DNA akibat induksi radiasi. Sedangkan Hidroksiurea dan Paclitaxel dapat memperpanjang durasi sel dalam keadaan fase sensitif terhadap radiasi.

Kemoterapi yang diberikan secara bersamaan dengan radioterapi (concurrent or concomitant chemoradiotherapy ) dimaksud untuk mempertinggi manfaat radioterapi. Dengan cara ini diharapkan dapat membunuh sel kanker yang sensitif terhadap kemoterapi dan mengubah sel kanker yang radioresisten menjadi lebih sensitif terhadap radiasi. Keuntungan kemoradioterapi adalah keduanya bekerja sinergistik yaitu mencegah resistensi, membunuh subpopulasi sel kanker yang hipoksik dan menghambat recovery DNA pada sel kanker yang sublethal.

 

Kelemahan Kemoradioterapi

Kelemahan cara ini adalah meningkatkan efek samping antara lain mukositis, leukopeni dan infeksi berat. Efek samping yang terjadi dapat menyebabkan penundaan sementara radioterapi. Toksisitas Kemoradioterapi dapat begitu besar sehingga berakibat fatal.

Beberapa literatur menyatakan bahwa pemberian kemoterapi secara bersamaan dengan radiasi dengan syarat dosis radiasi tidak terlalu berat dan jadwal pemberian tidak diperpanjang, maka sebaiknya gunakan regimen kemoterapi yang sederhana sesuai jadwal pemberian.

Untuk mengurangi efek samping dari kemoradioterapi diberikan kemoterapi tunggal (single agent chemotherapy) dosis rendah dengan tujuan khusus untuk meningkatkan sensitivitas sel kanker terhadap radioterapi (radiosensitizer). Sitostatika yang sering digunakan adalah Cisplatin, 5-Fluorouracil dan MTX dengan response rate 15%-47%.

 

2.5 Penilaian Hasil Terapi Kanker

Penilaian hasil pengobatan dengan kemoterapi, baik tunggal maupun kombinasi dengan pembedahan atau radioterapi, biasanya dilakukan setelah 3-4 minggu. Hasil kemoterapi dapat dilihat dari 2 aspek yaitu respons atau hilangnya kanker (response rate) dan angka ketahanan hidup penderita (survival rate). Dari aspek hilangnya kanker hasil kemoterapi dinyatakan dengan istilah-istilah yang lazim dipakai yaitu :

  • Sembuh ( cured )
  • Respon komplit ( complete response/ CR ) : semua tumor menghilang untuk jangka waktu sedikitnya 4 minggu
  •  Respons parsial ( partial response/ PR  ) : semua tumor mengecil sedikitnya 50 % dan tidak ada tumor baru yang timbul dalam jangka waktu sedikitnya 4 minggu.
  •  Tidak ada respons (no response/ NR): tumor mengecil kuran dari 50 % atau membesar kurang dari 25 %
  • Penyakit Progresif ( progresive disese/PD ) : tumor makin membesar 25 % atau lebih atau timbul tumor baru yang dulu tidak diketahui adanya.
  • Disamping itu, dikenal suatu periode penderita terbebas dari penyakitnya (disease free survival ).

Pada beberapa tumor disamping ukuran tumor, perkembangannya dapat dipantau berdasarkan kadar tumor marker.

 

Pola Regresi Tumor

Terdapat perbedaan pola regresi antara tumor perimer dan kelenjar getah bening leher. Terjadi Complete Respons pada akhir dari radioterapi (62%) dan meningkat menjadi 80 % pada 2 bulan pasca radioterapi, sedangkan pada kelenjar getah bening leher hanya  CR 32 % pada akhir radioterapi dan meningkat menjadi 76 % pada 2 bulan setelah radioterapi. Jadi biopsi sebaiknya dilakukan 2 bulan setelah radioterapi.

2.6 Prognosis

Prognosis karsinoma nasofaring menjadi lebih buruk pada keadaan:

  • stadium yang lebih tinggi
  • laki-laki
  • usia > 40 tahun
  • ras Cina
  • adanya pembesaran kelenjar leher

 

HIPOPION

Oleh:

dr Uskar Yulinanto

 PENDAHULUAN

 

Hipopion merupakan salah satu komplikasi dari beberapa penyakit mata terutama yang berhubungan dengan segmen anterior bola mata. Bila pada suatu penyakit segmen anterior bola mata telah didapatkan hipopion, maka dapat dikatakan penyakit tersebut pada sadium berat.

Hipopion adalah komplikasi paling sering dari ulkus kornea. Hipopion terbentuk karena reflek ganglion silier yang ikut terangsang setelah terjadinya ulkus sehingga menyebabkan dikeluarkannya sel-sel radang yang kemudian tertimbun dalam bilik mata depan. Diagnosis dapat ditegakkan dengan pemeriksaan klinis yang baik dibantu dengan slit lamp, sedangkan kausa / penyebabnya ditegakkan berdasarkan pemeriksaan mikroskopik dan kultur kuman.

Hipopion merupakan tanda yang dapat dilihat secara kasat mata atau dengan bantuan lampu senter atau dengan slit lamp akan ditemukan timbunan sl-sel radang pada bilik mata depan bagian bawah. Pengobatan dari hipopion adalah dengan mengobati penyakit primernya. Bila tidak dapat hilang dengan pengobatan dapat dilakukan tindakan bedah parasintesa dengan indikasi diagnostic dan terapeutik.

TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1 Anatomi

2.1.1 Bola mata

Bola mata berbentuk bulat dengan panjang maksimal 24 mm. Bola mata di bagian depan (kornea) mempunyai kelengkungan yang lebih tajam sehingga terdapat bentuk dengan 2 kelengkungan yang berbeda.

Bola mata dibungkus oleh 3 lapis jaringan, yaitu:

  1. Sklera merupakan jaringan ikat yang kenyal dan memberikan bentuk pada mata, merupakan bagian terluar yang melindungi bola mata. Bagian terdepan sclera disebut kornea yang bersifat transparan yang memudahkan sinar masuk ke dalam bola mata. Kelengkungan kornea lebih besar dibanding sclera.
  2. Jaringan uvea merupakan jaringan vascular. Jaringan sclera dan uvea dibatasi oleh ruang yang potensial mudah dimasuki darah bila terjadi perdarahan pada ruda paksa yang disebut perdarahan supra koroid.

Jaringan uvea ini terdiri atas iris, badan silier dan koroid. Pada iris didapatkan pupil yang oleh 3 susunan otot dapat mengatur jumlah sina masuk ke dalam bola mata. Otot dilatator dipersarafi oleh parasimpatis, sedang sfingter iris dan otot siliar dipersarafi oleh simpatis. Otot siliar yang terletak di badan siliar mengatur bentuk lensa untuk kebutuhan akomodasi.

Badan siliar yang terletak di belakang iris menghasilkan cairan bilik mata (akuos humor), yang dikeluarkan melalui trabekulum yang teletak pada pangkal iris dibatas kornea dan sclera.

  1. Lapis ketiga bola mata adalah retina yang terletak paling dalam dan mempunyai susunan lapis sebanyak 10 lapis yang merupakan lapis membran neurosensoris yang akan merubah sinar menjadi rangsangan pada saraf optic dan diteruskan ke otak. Terdapat rongga yang potensial antaa retina dan koroid sehingga retina dapat terlepas dari koroid yang disebut ablasio retina.

Badan kaca mengisi rongga di dalam bola mata dan bersifat gelain yang hanya menempel papil saraf optic, macula dan pars plana. Bila terdapat jaringan ikat di dalam badan kaca disertai dengan tarikan pada retina, maka akan robek dan terjadi ablasi retina.

Lensa terletak di belakang pupil yang dipegang di daerah ekuatornya pada badan silier melalui zonula zinn. Lensa mata mempunyai peranan pada akomodasi atau melihat dekat sehingga sinar dapat difokuskan di daerah macula lutea.

Tedapat 6 otot penggerak bola mata, dan terdapat kelenjar lakrimal yang terletak di daerah temporal atas di dalam rongga orbita.

2.1.2 Kornea

Kornea (Latin cornum = seperti tanduk) adalah selaput bening mata, bagian selaput mata yang tembus cahaya, merupakan lapis jaringan yang menutup bola mata sebelah depan dan terdiri atas lapis:

  1. Epitel
  • Tebalnya 50 µm, terdiri atas 5 lapis sel epitel tidak bertanduk yang saling tupang tindih; satu lapis sel basal, sel poligonal dan sel gepeng.
  • Pada sel basal sering terlihat mitosis sel, dan sel muda ini terdorong ke depan menjadi lapis sel sayap dan semakin maju ke depan menjadi sel gepeng, sel basal berikatan erat dengan sel basal disampingnya dan sel poligonal di depannya melalui desmosom dan makula okluden; ikatan ini menghambat pengaliran air, elektrolit dan glukosa yang merupakan barier.
  • Sel basal menghasilkan membran basal yang melekat erat kepadanya. Bila terjadi gangguan akan mengakibatkan erosi rekuren.
  • Epitel berasal dari ektoderm permukaan.
  1. Membran Bowman
  • Terletak di bawah membran basal epitel kornea yang merupakan kolagen yang tersusun tidak teratur seperti stroma dan berasal dari bagian depan stroma.
  • Lapis ini tidak mempunyai daya regenerasi
  1. Stroma
  • Terdiri atas lamel yang merupakan susunan kolagen yang sejajar satu dengan yang lainnya, pada permukaan terlihat anyaman yang teratur sedang di bagian perifer serat kolagen ini bercabang, terbentuknya kembali serat kolagen memakan waktu yang kadang-kadang sampai 15 bulan. Keratosit merupakan sel stroma kornea yang merupakan fibroblas terletak diantara serat kolagen stroma. Diduga keratosit membentuk baha dasar dan serat kolagen dalam perkembangan embrio atau sesudah trauma.
  1. Membran Descement
  • Merupakan membran aseluler dan merupakan batas belakang stroma kornea dihasilkan sel endotel dan merupakan membran basalnya.
  • Bersifat sangat elastik dan berkembang terus seumur hidup, mempunyai tebal 40 µm.
  1. Endotel
  • Berasal dari mesotelium, berlapis satu, bentuk heksagonal, besar 20 – 40 µm. Endotel melekat pada membran descemen melalui hemidesmosom dan zonula okluden.

Kornea dipersarafi oleh banyak saraf sensoris terutama berasal dari saraf siliar longus, saraf nasosiliar, saraf ke V saraf siliar longus berjalan supra koroid, masuk ke dalam stroma kornea, menembus membran bowman meleaskan selubung schwannya. Seluruh lapis epitel dipesarafi sampai pada kedua lapis terdepan tanpa ada akhir saraf. Bulbus Krausse untuk sensasi dingin ditemukan di daerah limbus. Daya regenerasi saraf sesudah dipotong di daerah limbus terjadi dala waktu 3 bulan.

Trauma atau penyakit yang merusak endotel akan mengakibatkan sistem pompa endotel terganggu sehingga dekompensasi endotel dan terjadi edema kornea. Endotel tidak mempunyai daya regenerasi.

Kornea merupakan bagian mata yang tembus cahaya dan menutup bola mata di sebelah depan. Pembiasan sinar terkuat dilakukan oleh kornea, dimana 40 dioptri dari 50 dioptri pembiasan sinar masuk kornea dilakukan oleh kornea.

2.1.3 Uvea

Lapis vaskular di dalam bola mata yang terdiri atas iris, badan siliar dan koroid.

Pendarahan uvea dibedakan antara bagian anterior yang diperdarahai oleh 2 buah arteri siliar posterior longus yang masuk menembus sklera di temporal dan nasal dekat tempat masuk saraf optik dan 7 buah arteri siliar anterior yang terdapat 2 pada setiap otot superior, medial inferior, satu pada otot rektus lateral. Arteri siliar anterior dan posterior ini bergabung menjadi satu membentuk arteri sirkularis mayor pada badan siliar. Uvea posterior mendapat perdarahan dari 15 – 20 buah arteri siliar posterior brevis yang menembus sklera di sekitar tempat masuk saraf optik.

Persarafan uvea didapatkan dari ganglion siliar yang terletak antara bola mata dengan otot rektus lateral, 1 cm di depan foramen optik, yang menerima 3 akar saraf di bagian posterior yaitu:

  1. Saraf sensoris, yang berasal dari saraf nasosiliar yang mengandung serabut sensoris untuk kornea, iris dan badan siliar.
  2. Saraf simpatis yang membuat pupil berdilatasi, yang berasal dari saraf simpatis yang melingkari arteri karotis; mempersarafi pembuluh darah uvea dan untuk dilatasi pupil.
  3. Akar saraf motor yang akan memberikan saraf parasimpatik untuk mengecilkan pupil.

Pada ganglion siliar hanya saraf parasimpatis yang melakukan sinaps. Iris terdiri atas bagian pupil dan bagian tepi silier, dan badan silier terletak antara iris dan koroid. Batas antara korneosklera dengan badan silier belakang adalah 8 mm temporal dan 7 mm nasal. Di dalam badan silier terdapat 3 otot akomodasi yaitu longitudinal, radial, dan sirkuler.

Iris mempunyai kemampuan untuk mengatur secara otomatis masuknya sinar ke dalam bola mata. Reaksi pupil ini merupakan juga indikator untuk fungsi simpatis (midriasis) dan parasimpatis (miosis) pupil. Badan silier merupakan susunan otot melingkar dan mempunyai sistem ekskresi di belakang limbus. Radang badan silier akan mengakibatkan melebarnya pembuluh darah di bagian limbus, yang akan mengakibatkan mata merah yangmerupakan gambaran karakteristik keradangan intraokuler.

Otot longitudinal badan silier yang berinsersi di daerah baji sklera bila berkontraksi akan membuka anyaman trabekula dan mempercepat pengaliran cairan mata melalui sudut bilik mata.

Otot melingkar badan silier bila berkontraksi pada akoodasi akan mengakibatkan mengendornya zonula zinn sehingga terjadi pencembungan lensa. Kedua otot ini dipersarafi oleh saraf parasimpatik dan bereaksi baik terhadap obat parasimpatomimetik.

2.1.4 Pupil

Pupil anak-anak berukuran kecil akibat belum berkembangnya saraf simpatis. Orang dewasa ukuran pupil adalah sedang, dan orang tua pupil mengecil akibat rasa silau yang dibangkitkan oleh lensa yang sklerosis.

Pupil waktu tidur kecil, hal ini dipakai sebagai ukuran tidur, simulasi, koma dan tidur sesungguhnya. Pupil kecil waktu tidur akibat dari:

  1. Berkurangnya rangsangan simpatis
  2. Kurang rangsangan hambatan miosis

Bila subkortek bekerja sempurna maka terjadi miosis. Di waktu bangun kortek menghambat pusat subkortek sehingga terjadi midriasis. Waktu tidur hambatan subkortek hilang sehingga terjadi kerja subkortek yang sempurna yang akan menjadikan miosis.

Fungsi mngecilnya pupil untuk mencegah aberasi kromatis pada akomodasi dan untuk memperdalam fokus seperti pada kamera foto yang diafragmanya dikecilkan.

2.1.5 Bilik Mata Depan

Sudut bilik mata yang dibentuk jaringan korneosklera dengan pangkal iris. Pada bagian ini terjadi pengaliran keluar cairan bilik mata. Bila terdapat hambatan pengaliran keluar cairan mata akan terjadi penimbunan cairan bilik mata di dalam bola mata sehingga tekanan bola mata meninggi atau glaukoma. Berdekatan dengan sudut ini didapatkan jaringan trabekulum, kanal schlemm, baji sklera, garis Schwalbe dan jonjot iris.

Sudut filtrasi berbatas dengan akar berhubungan dengan sklera kornea dan disini ditemukan sklera spur yang membuat cincin melingkar 360 derajat dan merupakan batas belakang sudut filtrasi serta tempat insersi otot silier longitudinal. Anyaman trabekula mengisi kelengkungan sudut filtrasi yang mempunyai dua komponen yaitu badan silier dan uvea. Pada sudut filtrasi terdapat garis Schwalbe yang merupakan akhir perifer endotel dan membran desement, dan kanal Schlemm yang menampung cairan mata keluar ke salurannya.

Sudut bilik mata depan sempit terdapat pada mata berbakat glaukoma sudut tertutup, hipermetropia,blokade pupil, katarak intumesen, dan sinekia posterior perifer. 1

 

2.2 Batasan

Hipopion merupakan pengendapan sel radang pada sudut bilik mata depan bagian bawah2. Hipopion terdiri dari sekumpulan leukosit pada semua stadium degenerasi, termasuk fibrin yang mengendap di bawah sudut antara iris dan kornea3, 4.

2.3 Patofisiologi

Terdapat beberapa sumber terjadinya hipion, yaitu:

  1. Kerusakan secara langsung membran Descement karena nekrosis atau tekanan langsung atau keduanya.
  2. Adanya eksudat dari iris
  3. Kemungkinan yang lain adalah dari lapisan endotelium membran Descement.

Teori baru bahwa hipopion terjadi karena kerusakan membran Descement dikemukakan oler dr. Elschnig dalam (”Zur Pathologischen Anatomie der Keratitis Suppurative des Menschlichen Auges,” graefe’s Archiv. B. XLV, abth.2, S.400) yang mana erosi akan merangsang agregasi lekosit pada permukaan posterior kornea , lekosit diduga berasal dari ligamentum pectinatum, iris dan badan silier. Dan proses lain seperti kemotaktik yang dipengaruhi oleh mediator inflamasi dari bakteri di kornea. Lekosit tersebut diduga membentuk hipopon. Secara teori hipopon ini tidak ditemukan bakteri, dan lebih sering terjadi tanpa kerusakan membran Descement.

Terdapat hubungan antara pus pada ulkus dan abses kornea bagian dalam. Kornea adalah jaringan yang siap diserbu lekosit dan tidak ada alasan mengapa kemotaktik mempengaruhi munculnya sel ini campur tangan bakteri, pada permukaan posterior membran Descement. Infiltrasi yang dalam diikuti dengan hipopion biasa ditemukan pada praktek sehari-hari. Kenyataan ini memberikan gambaran tentang hubungan secara histologi bahwa abses kecil dapat terbentuk pada kornea dekat membran Descement dan kemudian pecah sehingga mengisi bilik mata depan. Setelah abses ditemukan terbuka, jaringan kornea dalam kondisi semi nekrosis menjadi kering dalam beberapa waktu singkat terlihat tidak ada tanda-tanda proses inflamasi. Hal ini akan terlihat antara ulkus dan kerusakan membran Descement. Infiltrasi pada kornea terus berkembang menjadi ulkus, abses dan hipopion terbentuk paling sedikit 48 jam atau lebih

Hipopion juga dapat dibentuk dari eksudat iris. Keradangan akut pada jaringan uvea diawali dengan terjadinya dilatasi pembuluh darah kecil pada jaringan uvea, disertai dengan eksudasi sel-sel radang dan fibrin ke dalam bilik mata depan. Iris menjadi lebih pucat, bengkak dan reflek pupil terhadap cahaya cenderung menurun, bahkan pada beberapa kasus reflek pupil terhadap cahaya menjadi negatif. Adayna eksudasi sel-sel radang ke dalam bilik mata depan , akan mengakibatkan kekeruhan pada bilik mata depan. Bila kekeruhan ringan disebut flare, dimana pada pemeriksaan dengan lampu celah didapatkan adanya partikel-partikel kecil pada bilik mata depan dan disebut sel bila didapatkan partikel-partikel kecil yang lebih besar. Apabila sel-sel radang mengendap pada bilik mata depan terlihat seperti adanya pus di dalam bilik mata depan disebut hipopion6, 7.

2.4 Differensial Diagnosa

  1. Sekunder terhadap infeksi kornea karena jamur, bakteri.
  1. Sekunder terhadap uveitis endogen
    • Bukan infeksi : penyakit Behcet, iridosiklitis akut, uveitis fakoanafilaktik
  • Infeksi: Endoftalmitis karena bakteri, jamur atau parasit.
  1. Tumor intra okuler2, 7.

2.5 Penatalaksanaan

Pasien akan mengeluh sakit, disertai dengan epifora dan blefarospasme, penglihatan pasien akan sangat menurun. Bila pasie duduk, hipopion akan terlihat terkumpul di bagian bawah bilik mata depan dan dapat memenuhi seluruh ruang bilik mata depan. Kadang terlihat iridoplegi dan iridodialisis8.

Pengobatan hipopion dapat dilakukan dengan merawat pasien dengan tidur di tempat tidur yang ditinggikan 30 derajat pada kepala (posisi semi fowler), diobati penyakit primernya dan mata ditutup. Pada anak yang gelisah dapat diberikan obat penenang. Asetazolamide diberikan bila terjadi penyulit glaukoma. Hipopion dapat hilang sempurna9.

Glaukoma sekunder dapat pula terjadi akibat kontusi badan silier berakibat suatu reses sudut bilik mata depan sehingga terjadi gangguan pengaliran cairan mata10.

Bila dengan pengobatan penyakit primer, hipopion tidak juga menghilang dapat dilakukan tindakan bedah dengan indikasi diagnostik dan terapeutik yaitu parasentese. Indikasi diagnostik untuk mengetahui kuman penyebab secara mikrobiologi dan kultur. Indikasi terapeutik untuk mengurangi jumlah hipopion dalam bilik mata depan

Parasentese merupakan tindakan pembedahan dengan mengeluarkan darah atau nanah dari bilik mata depan, dengan tehnik sebagai berikut: dibuat insisi kornea 2 mm dari limbus kearah kornea yang sejajar dengan permukaan iris (jam 6). Biasanya bila dilakukan penekanan pada bibir luka maka koagulum dari bilik mata depan keluar. Bila nanah tidak keluar seluruhnya maka bilik mata depan dibilas dengan garam fisiologik. Biasanya luka insisi kornea pada parasentese tidak perlu dijahit1.

 KESIMPULAN

  1. Hipopion merupakan pengendapan sel radang pada sudut bilik mata depan bagian bawah
  2. Terdapat beberapa sumber terjadinya hipopion, yaitu:
    1. Kerusakan secara langsung membran Descement karena nekrosis atau tekanan langsung atau keduanya.
    2. Adanya eksudat dari iris
    3. Kemungkinan yang lain adalah dari lapisan endotelium membran Descement.
  3. Hipopion terdapat pada:
    1. Sekunder terhadap infeksi kornea karena jamur, bakteri.
    2. Sekunder terhadap uveitis endogen
      1. Bukan infeksi : penyakit Behcet, iridosiklitis akut, uveitis fakoanafilaktik
      2. Infeksi: Endoftalmitis karena bakteri, jamur atau parasit.
    3. Tumor intra okuler2, 7.
  4. Pengobatan hipopion dapat dilakukan dengan:
  • Bed rest posisi semi fowler
  • diobati penyakit primernya
  • mata ditutup
  • Pada anak yang gelisah dapat diberikan obat penenang.
  • Asetazolamide diberikan bila terjadi penyulit glaukoma.
  • Parasentese

 

DAFTAR PUSTAKA

  1. Ardy, Hafid. 1993. Diagnosa Etiologik Uveitis Anterior. Seminar EED-Kornea-Uvea Perdami XXI. Yogyakarta
  2. Gr
  3. Ilyas, Sidarta. 2004. Ilmu Penyakit Mata. Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Penerbit FKUI Jakarta
  4. een, John. Ewing, Arthur E. 2007. Hypopion-Keratitis-Break in Descement’s Membrane Preceeding Corneal Perforation: Passage of Hydrogen Peroxide and Flourescein Through The Corneal Ulcer into The Anterior Chamber. Journal of American Medical Association
  5. Green, John. Ewing, Arthur E. 2007. Hypopion-Keratitis-Break in Descement’s Membrane Preceeding Corneal Perforation. Journal of American Medical Association
  6. FB Aggio, ME Farah, GB de Melo, PA d’ Azevedo, ACC Piguatari and AL Hofling-Lima. 2007. Acute Endophthalmitis Following Intravitreal Bevacizumab (Avastin) Injection. Brazil: Eye (2007) 21, 408-409
  7. Soewono, Wisnujono. 1992. Kuliah Ilmu Penyakit Mata. Surabaya: FK UNAIR-RSUD dr. Soetomo
  8. Arif, Mansjoer … [et al.]. 1999. Kapita Selekta Kedokteran —Ed.III, Cet.2.—Jakarta: Media Aesculapius
  9. Ilyas, Sidarta, dkk. 2003. Sari Ilmu Penyakit Mata. Jakarta: Balai Penerbit FKUI Jakarta
  10. Kipp, Charles J. Newark, NJ. 2007. Some Observations on The Pognosis and Treatment of Hypopion Ulcer of The Cornea. Journal of American Medical Association
  11. 1994. Pedoman Diagnosis dan Terapi Lab/UPF Ilmu Penyakit Mata. Surabaya: RSUD dr. Soetomo
  12. Chiquet, C. [et al]. 2007. Acute Postoperative Endophthalmitis Caused by Staphyylococcus lugdunensis. France: JCM

TEHNIK INFUS DAN KATETER

oleh Uskar Yulinanto, dr*

PENDAHULUAN

ABCDE adalah prinsip penanganan pertama kedaruratan medik. Airway paling mudah diberikan dengan memasang selang oksigen. Breathing diatasi dengan memasang mayo. Cirkulasi dengan infus, kateter, dan atau NGT. Disability dengan bidai atau GIPS. Environtment dengan……. (apa ya???………. Sapu kali?!!).

Memasang atau memberikan perlakuan khusus pada pasien seperti pemasangan infus, kateter dll membutuhkan pengetahuan dan ketrampilan khusus. Detail pemberian cairan dsb harus dikuasai oleh para dokter muda. Yang membedakan dokter dari petugas para medis lain adalah dokter harus tahu asal usul atau sebab akibat setiap perlakuan yang diberikan.

Melalui modul singkat ini diharapkan dapat bermanfaat menambah khasanah keilmuan kita di bidang ilmu kedokteran praktis.

 

TEHNIK INFUS

  1. Indikasi
  • Dehidrasi
  • Sebelum transfusi darah
  • Pasien yang akan dioperasi dengan general anestesi
  • Tidak bisa makan dan minum
  • Untuk pengobatan tertentu
  1. Perlengkapan
  • Infus set
  • Cairan
  • Jarum infus (venflon)
  • Gantungan infus/ tiang infus
  • Spalk (bidai)
  • Kassa steril /kapas alkohol
  • Plester, gunting
  • Bengkok
  • Torniquette
  1. Tehnik
  • Atur penderita dalam posisi berbaring dan dekatkan alat yang sudah disiapkan
  • Infus set ditutup kemudian ditusukkan ke botol cairan
  • Gantung botol cairan pada tiang infus. Buka penutup infus set sampai tak terlihat adanya udara dalam selang infus set.
  • Pasang turniquette pada lengan yang akan diinfus
  • Pilih pembuluh darah vena yang paling besar dan lurus (tidak bercabang)
  • Pegang venflon dengan sisi lurus runcingnya mengarah keatas dengan sudut 30-450.
  • Bila jarum telah menembus kulit, kurangi sudut jarum sehingga nyaris sejajar dengan kulit dan searah dengan pembuluh darah vena, lalu serongkan memasuki pembuluh darah vena
  • Apabila tusukannya berhasil, maka akan terlihat darah keluar dari pipa saluran, maka torniquette dilepas, penjepit dilonggarkan untuk melihat kelancaran tetesan cairan. Bila tetesan sudah lancar maka pangkal jarum difiksasi pada kulit dengan plester.
  • Kemudian tetesan diatur sesuai dengan kebutuhan.
  1. Cara Mengukur Jumlah Tetesan
  • Hitung jumlah cairan yang dibutuhkan.
  • Lihat kemasan infus set disana tertulis 15, 20 atau 60 tetes/cc
  • Cairan itu akan dihabiskan dalam waktu berapa jam???
  • Lihat isi kemasan 1 flas cairan (biasanya 1 Fl = 500 cc)
  • Cara menghitung jumlah tetesan permenit adalah

Keterangan:

Misal 1 flas cairan isinya 500 cc

∑ cairan infus (ml) = 500 cc x ∑ flas

uskar

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Jadi:

uskar2

 

  1. Perawatan
  • Catatan pemberian infus: (hari/tanggal/jam mulai dipasang infus, macam dan jumlah cairan tetesan permenit, obat yang dimasukkan lewat botol infus-drip)
  • Jaga kelancaran jalannya infus
  • Bila bengkak, hematom, atau flebitis infus distop dan pindah ke yang lain
  • Siapkan cairan pengganti selanjutnya
  • Perhatikan septik dan aseptik
  • Ganti venflon tiap 3 hari
  • Balance cairan

TEHNIK KATETER

  1. Tujuan Diagnosis
  • Contoh cairan (pada wanita)
  • Mengukur sisa urin
  • Memasukkan kontras
  • Urodinamik
  • Menilai produksi urine
  1. Tujuan Terapi
  • Mengeluarkan karena obstruksi
  • Diversi urine setelah operasi prostat, vesikolitotomi
  • Sebagai splin pada rekonstruksi uretra
  • Tindakan kateter mandiri berkala
  • Memasukkan obat intra vesikel (sitostatika & antiseptik)
  1. Ukuran
  • Cheriere’s (French) : diameter luar kateter
  • 1 Ch atau 1 Fr = 0,33 mm atau 1 mm = 3 Fr
  1. Perlengkapan
  • Kateter set
  • Urine bag
  • Kassa steril/kapas alkohol
  • Spuit 10 cc
  • Aquabidest
  • Jely
  • Lidokain 2%
  • Duk bolong
  1. Tehnik
  • Atur penderita dalam posisi berbaring, dekatkan alat yang sudah disiapkan
  • Masukkan aquabidest ke dalam spuit sebanyak 5 – 10 cc. (bila pasien tidak sadar boleh diisi sampai 30 cc)
  • Disenfeksi bagian yang akan dipasang kateter
  • Persempit lapangan dengan duk bolong
  • Olesi kateter dengan jely atau pelicin
  • Masukkan secara gentle (akan ada hambatan saat di bulbomembranasea oleh karena ada sfingter eksterna)
  • Dorong kateter ke dalam buli sampai percabangan kateter di MUE
  • Isi balon kateter dengan aquabidest yang telah disiapkan
  • Hubungkan dengan urin bag
  • Fiksasi kateter ke daerah inguinal

Pada penderita jantung memiliki tehnik yang berbeda

  • Atur penderita dalam posisi berbaring, dekatkan alat yang sudah disiapkan
  • Buka pengisap spuit kemudian masukkan jelly secukupnya ke dalam spuit. Masukkan kembali pengisap lalu ambil dan masukkan lidokain 2% sebanyak 2 ml lalu di campur.
  • Masukkan aquabidest ke dalam spuit yang lain sebanyak 5 – 10 cc.
  • Disenfeksi bagian yang akan dipasang kateter
  • Persempit lapangan dengan duk bolong
  • Masukkan isi spuit yang berisi jelly&lidokain ke dalam uretra lewat  MUE
  • Cekik batang penis supaya jelly tidak keluar
  • Masukkan secara gentle (akan ada hambatan saat di bulbomembranasea oleh karena ada sfingter eksterna)
  • Dorong kateter ke dalam buli sampai percabangan kateter di MUE
  • Isi balon kateter dengan aquabidest yang telah disiapkan
  • Hubungkan dengan urin bag
  • Fiksasi kateter ke daerah inguinal
  1. Perawatan
  • Minum banyak
  • Selalu membersihkan nanah, darah, getah/sekret yang menempel pada kateter
  • Jangan meletakkan urin bag lebih tinggi dari pada buli-buli
  • Jangan sering membuka saluran urin bag
  • Mengganti kateter tiap 2 minggu sekali denga yang baru pada tindakan kateter mandiri berkala. Atau 1 minggu sekali bila pasien di ruangan

BALANCE CAIRAN

Selama penderita memakai infus dibuat balans cairan tiap hari mulai jam 7 sampai jam 7 hari berikutnya.

Intake

Air (makan + minum)  = ……… ml

Cairan infus                      = ……… ml

Air metabolisme            = ……… ml

Output

Urine                                  = ……… ml

IWL                                     = ……… ml

Feses                                   = ……… ml

Muntah                              = ……… ml

Cairan drain                     = ……… ml

Perdarahan                      = ……… ml

Cairan NGT                      = ……… ml

BC =  intake – output

+    à overload/ ekses

  • à defisit

Keterangan:

Urine normal                         : 0,5 – 1 cc/kgBB/1 jam

IWL: dewasa                         : 15 cc/kgBB/hr

Anak                                         : (30 sampai usia 5 tahun) cc/kgBB/hr

Kenaikan suhu                     : IWL + 200 (t – 36,80C)

Feses                                         : 100 mL/hr

Air metabolisme

Dewasa                                    : 5 cc/kgBB/hr

Anak   12 – 14 tahun         : 5 – 6 cc/kgBB/hr

7 – 11 tahun                          : 6 – 7 cc/kgBB/hr

5 – 7 tahun                            : 8 – 8,5 cc/kgBB/hr

< 5 tahun                               : 8 cc/kgBB/hr

cc = mL

 

TEST KEBUGARAN CALON JEMAAH HAJI KABUPATEN KEBUMEN TAHUN 2016

 

Pemberangkatan calon jemaah haji Indonesia sudah mulai dipersiapkan. Sebagai rukun Islam ke-5 merupakan kewajiban umat Islam karena Allah SWT dan menurut Surat Al Imran ayat 97 merupakan kewajiban bagi orang-orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah yaitu mampu dalam pembiayaan, pengetahuan, kesehatan jasmani dan rohani. Kemampuan jasmani dan rohani merupakan salah satu syarat kelayakan untuk beribadah haji (istithoah) berdasarkan hasil pemeriksaan kesehatan sebagai bagian dari penyelenggaraan ibadah haji.

IMG-20160513-WA0002  Kesehatan  adalah modal dalam perjalanan ibadah haji, tanpa kondisi kesehatan yang sangat memadai niscaya kekhusukan pencapaian ritual peribadatan tidak optimal. Oleh karena itu setiap calon jemaah haji harus memiliki kemampuan fisik yang memadai atau memiliki kebugaran yang baik.

Kekhusukan dan kenikmatan melaksanakan ibadah haji salah satunya ditentukan oleh kesehatan CJH yang sangat prima. Kesehatan yang prima ditentukan oleh kebugaran jasmani.Kebugaran jasmani yang baik merupakan salah satu modal untuk mendapatkan haji yang mabrur.

Pada hari Sabtu, 23 April 2016, 250 calon jemaah haji Kabupaten Kebumen melaksanakan test kebugaran calon jemaah di alun-alun Kebumen. Test kebugaran calon jemaah haji dilaksanakan oleh Tim Test Kebugaran Haji Dinas Kesehatan Kabupaten Kebumen Tahun 2016IMG-20160513-WA0001 dengan menggunkan metode rockport. Yaitu masing-masing Calon Jemaah Haji diwajibkan melakukan lari IMG-20160513-WA0004atau jalan kaki sejauh 1,6 KM, yang sebelumnya Calon Jemaah Haji harus mengisi formulir part Q & You dan diukur Tekanan Darah dan nadi serta IMT. Serta dilakukan pemanasan secara bersama-sama yang diinsturkturi oleh instruktur kebugaran Dinas Kesehatan Kabupaten Kebumen.

Dengan mengetahui kebugarannya diharapkan Calon Jemaah Haji bisa meningkatkan kebugarannya dengan latihan mandiri. Selain gerakan- gerakan sederhana yang sudah dilatih oleh instruktur,  juga diberikan pelatihan senam haji yang bisa dilakukan secara mandiri. Dengan demikian kesiapan Calon Jemaah Haji untuk melaksanakan ibadah haji bisa lebih optimal.

ARUM DWILESTARININGSIH,S.Kep.,MM

Yuk ke Pos PIN

“Jangan lupa ya, 8 sampai 15 Maret”, kalimat itu hampir seluruh masyarakat hafal. Ya, sengaja pemerintah pada Sosialisasi Pekan Imunisasi Nasional (PIN) yang disiarkan melalui media eletronik mengulang-ulang waktu pelaksanaan agar tidak ada masyarakat yang melewatkan moment tersebut. Lalu mengapa yang diberikan hanya imunisasi Polio pada saat PIN?

Polio merupakan penyakit menular yang disebabkan infeksi virus Polio.Polio menyebabkan kelumpuhan permanen dan dapat menyebabkan kematian pada semua usia, terutama usia kurang dari 3 tahun. Virus ini menyebar melalui percikan ludah atau kontak makanan/minuman dan tangan yang terkontaminasi tinja dari orang yang terinfeksi Polio.1

Wilayah SEARO (South East Asia Region) atau Asia Tenggara termasuk didalamnya Indonesia sudah mendapatkan sertifikat bebas Polio pada 27 Maret 2014. Tetapi bukan tidak mungkin Indonesia akan mendapatkan kasus Polio impor mengingat masih ada 3 negara endemis Polio yaitu Pakistan, Afganistan dan Nigeria (data WHO sampai dengan 29 Juli 2014). Dunia sepakat Eradikasi Polio Global bisa tercapai pada tahun 2018.

Cakupan imunisasi Polio di beberapa daerah di Indonesia masih rendah, terutama di luar Jawa, kesenjangan ini bisa menyebabkan herd immunity anak Indonesia terhadap Polio sangat rendah. PIN hadir sebagai sarana untuk memperkecil kesenjangan cakupan imunisasi antar daerah di Indonesia sehingga herd immunity anak Indonesia terhadap Polio tinggi.

Efektivitas vaksin Polio sudah tidak perlu diragukan lagi, pada tahun 1988 terdapat 125 negara endemis Polio dan dengan imunisasi rutin yang kontinu sampai sekarang hanya tersisa 3 negara endemis. Yang lebih membanggakan lagi 2 per tiga kebutuhan vaksin Polio di dunia dipasok oleh PT Bio Farma, Indonesia. Sehingga masyarakat tidak perlu ragu membawa anak balitanya ke Pos PIN terdekat bahkan sampai dengan mempertanyakan halal haramnya vaksin karena secara resmi MUI mengeluarkan fatwa MUI no. 4 Tahun 2016 sebagai dukungan resmi terhadap PIN yang diselenggarakan oleh pemerintah. Perlu diketahui juga oleh masyarakat bahwa sampai dengan sekarang belum ada peraturan pelabelan halal pada produk vaksin.

Imunisasi Polio yang diberikan pada saat PIN adalah bonus bagi balita yang sudah mendapatkan imunisasi Polio lengkap sebanyak 4 kali, dan tidak perlu kuatir dengan overdosis vaksin karena vaksin bukan obat.

Jadi tunggu apa lagi, Yuk ke Pos PIN terdekat, 8 sampai 15 Maret

(Desi Frageti, SKM)

Pencanangan Pekan Imunisasi Nasional (PIN) Polio Kabupaten Kebumen Tahun 2016 oleh Bupati Kebumen

Pekan Imun2isasi (PIN) Polio 2016 adalah program nasional pemberian imunisasi polio kepada seluruh balita yang bertujuan untuk meningkatkan kekebalan balita terhadap penyakit polio. World Health Organization (WHO) menyatakan saat ini penyakit polio sudah diberantas secara global hingga 99%, dengan demikian hanya tinggal 1% menuju eradikasi polio. Di Indonesia sendiri kasus polio sudah tidak ada sejak tahun 2006. WHO pun telah menyatakan Indonesia sebagai negara bebas polio pada tahun 2014.

Program PIN polio masih wajib diberikan sebagai bentuk komitmen pemerintah Indonesia untuk mewujudkan dunia bebas polio pada tahun 2020. PIN polio 2016 diberikan pada anak berusia 0-59 bulan tanpa melihat status imunisasi sebelumnya.  Imunisasi ini diberikan dalam bentuk tetes dengan dosis dua tetes kepada balita dan dapat diperoleh gratis serentak di seluruh Indonesia mulai tanggal 8 sampai dengan 15 Maret 2016.

Pelaksanaan PIN polio di Kabupaten Kebumen serentak dilaksanakan di seluruh wilayah kabupaten Kebumen. Untuk kegiatan Pencanangan Pekan Imunisasi Nasional Polio Kabupaten Kebumen tahun 2016 dipusatkan di balai desa Karangduwur, kecamatan Petanahan dan dipimpin langsung oleh Bupati Kebumen, Ir. H.M Yahya Fuad, SE. Turut hadir dalam acara ini Wakil Bupati kebumen dan istri, ketua Tim Penggerak PKK kabupaten, Wakapolres, Kepala kejaksanaan negeri, kepala DPRD, Staf ahli bupati, Ibu Adi Pandoyo, Ketua Komisi B DPRD, Direktur RS Dr Soedirman, Muspika se-kecamatan Petanahan, kepala Puskesmas Petanahan, Klirong, dan Puring, Kepala BRI dan BPD Kebumen, kader kesehatan se-Kecamatan Petanahan, serta berbagai elemen masyarakat.

Kegiatan PIN polio di kabupaten Kebumen ini merupakan salah satu program yang merupakan pemenuhan amanah UU no 36 tahun 2009 yang menyatakan bahwa setiap anak berhak memperoleh imunisasi dasar sesuai dengan ketentuan untuk mencegah terjadinya penyakit yg dapat dihindari melalui imunisasi. Program ini juga selaras dengan visi-misi Bupati Kebumen. Bupati Kebumen dalam sambutannya menyampaikan bahwa Pekan Imunisasi Nasional ini secara serentak dari hari ini sampai tanggal 15 Maret 2016, mongo sami-sami ke pos PIN untuk memberikan vaksin ke buah hati. Lebih baik mencegah dengan imunisasi daripada mudah terkena penyakit polio.

Dalam acara ini Bupati Kebumen memberikan imunisasi Polio kepada balita yang hadir dengan didampingi oleh masing-masing orang tuanya. Setelah balita diberikan vaksin lalu ditandai dengan tinta warna biru di jari kelingking.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kebumen, dr. Hj. Y. Rini Kristiani, M.Kes melaporkan bahwa sasaran PIN polio 2016 adalah sebanyak 88.291 anak usia 0 s.d 59 bulan (tanpa memandang status imunisasi), termasuk pendatang. Anak yang tidak datang dan belum mendapatkan imunisasi pada saat hari “H” harus dikunjungi (sweeping) dan diberikan imunisasi polio dalam kurun waktu maksimal 3 hari. Target pencapaian imunisasi polio ini adalah setinggi mungkin yaitu ≥ 95%. Logistik pelaksanaan program ini yaitu ada vaksin sejumlah 5.150 vial (Prov / Pusat), 429 buah vaksin carrier dan melibatkan 1297 pos pin, 790 petugas nakes/vaksinator, 96 nakes supervisor dan 6.221 kader kesehatan.

Mengingat pentingnya kegiatan PIN Polio 2016 ini, maka penting bagi kita untuk turut mendukung mendukung keberhasilan kegiatan ini dengan menyebarluaskan informasi mengenai PIN 2016 kepada keluarga, kerabat, dan masyarakat di sekitar kita khususnya yang memiliki balita (0-59 bulan) untuk segera mengimunisasikan anaknya pada tanggal 8-15 Maret 2016. Melalui upaya ini diharapkan status eradikasi polio di Indonesia dapat dipertahankan.

Emi Marfuqoh, S.KM

1DSCN0419

1 2 3 6